“Tasbih Rimba”

Di antara rimba, doa mengalun sebelum langkah dimulai. Tasbih Rimba merekam jejak hubungan manusia, alam, dan Tuhan sebagai sebuah pengingat bahwa hutan bukan sekadar ruang hidup, melainkan amanah yang harus dijaga.

Seorang Nelayan Muda

Seorang nelayan muda menyelam untuk memeriksa perangkap ikan di rawa Singkil, sebuah ekosistem lahan basah yang juga menjadi habitat buaya muara. Sejak usia dini, para nelayan belajar membaca arus, musim, dan perilaku satwa liar agar dapat mencari nafkah dengan aman. Hidup di kawasan rawa berarti membangun hubungan yang didasarkan pada pengetahuan, kehati-hatian, dan hidup berdampingan dengan alam.

Anyaman Pandan

Seorang perempuan di Kampung Teluk Rumbia mengolah daun pandan menjadi bahan baku anyaman tikar. Bagi masyarakat pesisir Singkil, kehidupan sehari-hari bergantung pada kekayaan alam bergantung pada kekayaan alam di sekitarnya—mulai dari ikan, udang, sagu, hingga pandan yang tumbuh di lahan basah. Pengetahuan mengolah hasil alam diwariskan lintas generasi sebagai bagian dari tradisi sekaligus strategi mempertahankan kehidupan.

Benih

Benih-benih tanaman dibungkus kain dan digantung di atas perapian untuk menjaga kelembapan dan melindunginya hingga musim tanam berikutnya. Di Beutong Ateuh, sebagian warga membuka kebun-kebun kecil sebagai bentuk mempertahankan ruang hidup sekaligus memperkuat klaim masyarakat atas kawasan yang terancam aktivitas tambang emas ilegal. Menjaga benih berarti menjaga keberlanjutan pangan, pengetahuan lokal, dan masa depan generasi berikutnya.

Aktivitas Tambang

Salah satu lahan terbuka akibat aktivitas tambang emas di Beutong Ateuh, Nagan Raya, Aceh. Sejak sekitar tahun 2010, masyarakat setempat secara konsisten menolak ekspansi pertambangan yang mengancam hutan, sungai, dan sumber-sumber kehidupan mereka. Bagi warga, menjaga bentang alam ini berarti melindungi ruang hidup yang menyediakan air bersih, lahan pertanian, serta habitat satwa liar di kawasan penyangga Ekosistem Leuser.

Ahmad

Anak berusia lima tahun, menunjuk atap rumah tempat ia dan ayahnya bertahan selama dua hari ketika banjir besar melanda Aceh. Peristiwa itu menjadi salah satu kenangan paling membekas dalam hidupnya. Bagi banyak keluarga, banjir bukan lagi peristiwa yang datang sesekali, melainkan ancaman yang semakin sering terjadi seiring meningkatnya kerusakan lingkungan dan krisis ikl

Aceh Pasca Bencana

Warga Aceh Tamiang mengambil bantuan pada malam hari di tengah keterbatasan akses. Lebih dari sebulan setelah banjir, sebagian keluarga masih hidup tanpa aliran listrik dan dengan akses yang sangat terbatas terhadap air bersih. Pemulihan berlangsung lambat, memperlihatkan bagaimana bencana ekologis dapat meninggalkan dampak yang panjang terhadap kehidupan masyarakat.

Tirai Sudut Musholla

Tales of Belonging

Sudut rumah seorang warga di Menggamat, desa yang selama bertahun-tahun aktif menolak ekspansi tambang emas. Menggamat berbatasan langsung dengan Kawasan Ekosistem Leuser, salah satu bentang hutan hujan tropis terpenting di Asia Tenggara. Selain ancaman pertambangan, kawasan ini juga menghadapi perluasan perkebunan kelapa sawit yang mempercepat hilangnya habitat satwa liar dan meningkatkan konflik antara manusia dengan gajah maupun harimau.